Logo Kamis, 5 Agustus 2021
images

Aliansi Masyarakat Jogo Malang bersama Kuasa Hukum korban penganiayaan bos karaoke datangi Polresta Malang

Efnews Malang - Senin (21 Juni 2021) Kuasa Hukum Mia Trisanti (38), Leo A. Permana, mendatangi Polresta Malang. Kedatangannya ini untuk memberikan surat revisi dan klarifikasi terkait kasus yang menimpa kliennya.

Aktivis Keadilan Kota Malang dan Aliansi Masyarakat Jogo Malang juga turut hadir di Polresta Malang siang ini.

Mia Trisanti (38), warga Lowokwaru Kota Malang menjadi korban penganiayaan oleh bos di tempatnya bekerja. Diduga kuat penganiayaan kepada Mia, bagian purchasing di tempatnya bekerja, dikarenakan Mia dituduh menggelapkan uang perusahaan. Jefry, bos tempat hiburan “The Nine Karaoke” murka secara keroyokan bersama beberapa anak buahnya.

Tuduhan penggelapan uang perusahaan (korupsi) dialamatkan Jefri kepada Mia Trisanti sebesar Rp 4,7 juta. Sedangkan, korban sendiri dipaksa untuk mengakuinya. Jika menolak maka Mia akan dipukul dan disiksa. Apalagi ruangan rahasia itu keberadaan CCTV dinonaktifkan.

Video lengkapnya bisa diakses di https://www.youtube.com/watch?v=IyM9nooLuIU

Menurut kuasa hukum Mia Trisanti, Leo Permana, yang juga koordinator Bantuan Hukum Ikatan Advokad Indonesia (Ikadin) DPC Malang Raya ini, awalnya Mia dijemput oleh beberapa orang mengaku sebagai satpam The Nine Karaoke sekitar pukul 13.00 WIB. Setelah sampai di ruangan khusus atau rahasia sekitar Kamis (17/6/2021). Mia mulai dilakukan interogasi atau setengah disidang oleh Jefri bersama anak buahnya.

Selama interogasi aksi tidak pantas sepertinya dilakukan oleh Jefri bersama anak buahnya. Disebabkan, Mia tidak mau mengakui akan tuduhan penggelapan uang perusahaan tersebut.

Penganiayaan atau penyiksaan serta penyekapan berlangsung selama beberapa jam mulai dari jam 15.00 hingga malam hari. Sehingga, keberadaan Mia tidak berkutik sewaktu di dalam lingkungan The Nine.

“Secarik kertas yang sempat ditulisnya pun tidak mampu terpantau oleh rekan kerjanya, dengan maksud agar bisa membantu menghubungi keluarganya atau minimal menginformasikan adanya penganiayaan,” ungkap Leo.

Bukan hanya Mia saja, Nikita, saudaranya turut mendapatkan perlakuan tidak semestinya. Nikita diancam ditusuk pakai garpu oleh Jefri, namun dihalangi oleh istri Jefri.

“Perlakuan kepada Nikita itu dilatarbelakangi adanya tuduhan pengiriman uang atas nama supplier. Menurut Nikita, bahwa uang yang masuk ke rekening Nikita adalah sebuah hutang. Mengingat antara supplier dan Mia sudah lama saling kenal untuk pertemanannya,” papar Leo.

Pihaknya  menangkap adanya keganjilan terhadap surat tanda terima lapor kepolisian (STTLP) yang dibuat pihak Kepolisian, Jumat (18/06/2021) dini hari.

“Milik klien kami nihil pencantuman nama terlapornya. Tapi pihak Jefri yang melaporkan kliennya dengan tuduhan dugaan penggelapan. Kenapa tercantum nama terlapornya yakni Mia. Ada apa ini dengan pihak Polresta Malang,” urainya.

“Pasalnya, pihak Jefri dalam melakukan penganiyaan kepada klien kami. Sesumbar, bahwa dirinya tidak mungkin disentuh oleh pihak Kepolisian. Saya ini kebal hukum,” sambungnya lagi.

Menurut Leo, adanya keterlambatan pemeriksaan terhadap korban seolah-olah terkesan ada pembiaran dari oknum SPKT Polresta Malang.

 

Reporter : M. Simamora