Logo Minggu, 27 November 2022
images

“Sosialisasi Budaya Baca, Literasi dan Penyuluhan Pengembangan Perpustakaan”

KOTA MALANG – EFNews.id

 

Dengan hilangnya motivasi literasi atau budaya membaca dan menulis, Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip (Dispussipda) Kota Malang memberikan perhatian kepada dunia pendidikan untuk mendorong sekolah-sekolah memiliki perpustakaan yang terakreditasi dan pustakawan yang mumpuni. Diharapkan melalui kegiatan “Sosialisasi Budaya Baca, Literasi dan Penyuluhan Pengembangan Perpustakaan” ini sekolah dapat mempunyai akses ke buku digital serta buku sumbangan dari masyarakat yang peduli dengan budaya literasi khususnya di Kota Malang.

 

Sosialisasi yang diadakan pada Selasa 28 Juni 2022 diadakan di Aula Perpustakaan Kota Malang, Lantai 3, Oro-oro Dowo, Klojen, Kota Malang ini dihadiri oleh para pustakawan serta perwakilan sekolah yang diundang khusus oleh Dispussipda Kota Malang agar sekolah yang belum mendaftar bisa mendapatkan relaksasi akreditasi pustaka. Sekolah didorong untuk memiliki perpustakaan yang terakreditasi untuk memperkuat budaya membaca maupun menulis para siswa sehingga dapat menghasilkan suatu karya.

 

Seorang penggiat literasi kota Malang, Arief Wibisono, S.Sos. dalam pemaparannya berharap ada dorongan dari sekolah-sekolah untuk membuat ajang kompetisi Karya Tulis, karena sebelum seseorang bisa menulis, orang itu harus banyak membaca untuk mendapatkan informasi dengan harapan minat literasi baca pada siswa bisa meningkat.

 

 “Gerakan literasi di sekolah harus terus jalan dan berkesinambungan karena pendidikan usia dini menentukan pembentukan karakter bangsa ke depannya. Bila jenjang SD sudah terbiasa membaca, kebiasaan baik akan berlanjut ke jenjang selanjutnya. Ketika ada lomba tulis di sekolah, biarkan mereka membaca dan berpikir dengan daya imajinasinya. Dengan sendirinya mereka akan terbiasa untuk membaca,” buka pria yang akrab dipanggil Bison ini.

 

“Begitupun sekolah, harus membuat banyak karya tulis. Bila setiap pagi kita bisa menulis suatu syair atau puisi maupun tulisan kecil 1 atau 2 halaman, bila dikumpulkan akan menjadi suatu buku,” ujar pria yang sudah sering membuat buku-buku, salah satunya adalah buku “In Memoriam: Pungky Deaz (1963-2013).

 

Bison juga melakukan bedah buku karya terbaru miliknya berjudul ‘Kilas Balik Sejarah R.P.H (Rumah Potong Hewan)’. Dalam buku itu beliau menceritakan kembali sejarah RPH yang seharusnya menjadi salah satu tempat yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, namun kini menjadi Tugu Aneka Usaha.

 

“Saya berharap RPH kini bisa ditetapkan menjadi cagar budaya, karena selama ini masih belum, banyak sejarah ditempat tersebut. Selain itu, RPH juga harus dijadikan sebagai tempat filterisasi penyakit pada pemotongan daging sapi, salah satunya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang saat ini menghantui masyarakat Indonesia khususnya masyarakat kota Malang,” ungkapnya.

 

“Dulu awalnya RPH Kota Malang ini ada mantri hewan yang dikenal dengan nama ‘Keur Master’ kemudian menghilang. Dengan adanya wabah PMK ini mantri hewan sudah mulai diadakan lagi. Jadi buku ini memberikan edukasi soal dua poin itu (Cagar Budaya dan Pemotongan Daging Sapi),” pungkas pria penggemar Aikido ini.

 

Beliau mencontohkan dengan membaca banyak informasi, beliau dapat membuat sebuah karya buku. “Kalau tidak punya budaya membaca yang kuat, maka tidak akan mungkin literasi di Kota Malang bisa maju. Membaca itu harus dibiasakan, kapanpun itu setiap hari manusia harus membiasakan membaca,” kata Penulis buku ‘Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang’ ini.

 

Sementara itu Santoso Mahargono,S.Sos yang merupakan pustakawan keahlian pertama di Perpustakaan Kota Malang berharap semua sekolah sudah bisa mendaftarkan sekolahnya agar mendapat ‘Relaksasi Akreditasi Pustaka’ sehingga dapat mengakses data-data buku perpustakaan umum secara online serta sekolah-sekolah yang belum mendaftar ‘Nomer Pokok Pustaka’ bisa mendaftarkannya saat kegiatan ini.

 

“Ada 18 sekolah yang belum mendaftar di Relaksasi Akreditasi. Relaksasi Akreditasi Perpustakaan itu syaratnya mudah ringan tapi dapat C, kalau reguler dapat A, agak berat syaratnya. Hari ini kita kumpulkan agar semua sekolah mendapat relaksasi akreditasi. Jadi sementara ini (di Kota Malang) yang/ sudah mendapat relaksasi ada 382 sekolah plus nanti 18 sekolah yang akan kita daftarkan dan akan menjadi yang terbanyak se-Indonesia,” ujar  pria yang juga Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia - Kota Malang ini.

 

“Untuk mengikuti kelas reguler persyaratannya sangat berat, seperti jumlah koleksi bukunya harus diatas 1.000 buah serta harus dikelola seorang pustakawan, begitupun jumlah penganggaran harus dicantumkan dan juga jumlah pengunjung harus dicatat dan harus ada peningkatan. Karena itu untuk sebuah perpustakaan kecil seperti sekolah, syarat tersebut untuk arah kesana sangat berat. Oleh Perpustakaan Nasional Indonesia diberi keringanan yang diberi nama ‘Relaksasi Akreditasi Pustaka’, itu sudah dilakukan sejak 2020,” jelas pria yang pernah menyandang Pustakawan Berprestasi Terbaik Nasional.

 

“Relaksasi ini didaftarkan di seluruh perpustakaan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Kota Malang dan yang paling banyak perpustakaan SD sekitar 200-an. Perpustakaan harus mempunyai standard, untuk menuju kesana buktinya adalah akreditasi, walaupun dengan kategori C,” tutupnya pada wartawan EFNews.id.

 

Reporter: Francis Xavier