Logo Rabu, 8 Desember 2021
images

Emotional Vs Physical Pain

Efnews.id - Saat kecil dulu, pasti banyak anak-anak yang diajari untuk mengendarai sepeda oleh orang tuanya dan tidak jarang jatuh saat sedang mencoba mengayuh sepeda pasti terjadi. Lantas, apa yang kita rasakan saat terjatuh ? Sakit bukan ? Hal ini merupakan salah satu dari pengalaman menyakitkan (painful) atau kejadian yang membangkitkan dan memunculkan reaksi sakit atau pain dalam diri kita. Bagaimana tubuh kita dapat merasakan rasa sakit ini ?

 

Teori diatas menjelaskan tentang bagaimana otak teransang untuk memberikan reaksi terhadap rasa sakit yang dirasakan oleh tubuh. Pada tahun 1965 Melzack dan Wall menyatakan bahwa Gate Control Theory ini terdapat semacam pintu gerbang yang dapat memfasilitasi transmisi sinyal nyeri (Hartwig & Wilson, 2005). Berdasarkan sinyal dari sistem asendens dan desendens maka ransangan akan diterima dan proses. Selanjutnya ransangan nyeri atau sakit tersebut akan diterima oleh nociceptors pada kulit, sehingga rangsangan yang berbahaya dan tidak berbahaya dapat menyebabkan nyeri yang dirasakan. Peransangan nosiseptor inilah yang menyebabkan nyeri. (Silbernagl & Lang, 2000).  Gate akan menutup atau membuka ini bisa tergantung oleh banyak faktor. Apakah kalian pernah merasakan saat semisal terjatuh dan terluka kita tidak sadar dan tidak merasakan sakit saat itu juga, namun saat kita sadar bahwa kita terluka barulah kita merasakan sakitnya ?  Jika melihat penjelasan teori diatas maka secara otomatis nociseptor akan memberikan informasi atau input kepada otak, namun besar kecilnya rasa sakit yang kita rasakan tergantung dari seberapa lebar “gate of pain” tadi terbuka atau menutup. Salah satu faktornya adalah kondisi emosional kita saat sedang merasakan “pain” tersebut seperti, sedang senang, marah, sedih ataupun takut. Jadi bisa dikatakan bahwa rasa sakit yang kita rasakan ini bersifat subjektif. Selain itu, terjadinya “pain” ini tidak hanya bisa dirasakan secara fisik, namun juga secara emosional. Contohnya adalah ketika kita merasakan yang namanya putus cinta atau sakit hati. Biasanya emotional pain ini sering berkaitan dengan kehidupan dan pengalaman sosial kita. Mekanisme pada emotional pain ini hampir sama dengan mekanisme physical pain (Biro, 2010; MacDonald and Leary 2005).

Jadi lebih sakit mana antara emotional pain dengan physical pain ? Ada pemicu di dua area otak. Pertama adalah amigdala, memproses kekuatan emosi, dan yang lainnya (korteks cingulate pregenual) menentukan bagaimana suasana hati anda berubah karena peristiwa tersebut. Serupa dengan hasil dari studi nyeri fisik, peneliti juga menemukan bahwa anterior cingulate cortex (ACC) dan right ventral prefrontal cortex (RVPFC) lebih aktif ketika merasa kehilangan atau dikucilkan. Dan semakin besar kecemasan seseorang, semakin besar aktivitas di ACC. Pada mekanisme physical pain impuls tidak melewati bagian parahippocampal gyrus (PHCG). Sedangkan pada emotional pain, bagian parahippocampal gyrus (PHCG) ini bekerja dalam memori terutama memori negatif dan cenderung untuk membangkitkan memori lama yang tersimpan di otak (Kilpatrick & Cahill, 2003, disitasi oleh Meerwijk, dkk, 2013). Karena berfisat subjektif, bisa saja tiap orang memiliki perasaan yang sama antar satu dengan yang lain, meskipun lukanya sama dan karena adanya bagian parahippocampal gyrus (PHCG) inilah kita lebih sering mengingat rasa sakit secara emosional daripada rasa sakit secara fisik. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga seseorang mengingat physical pain yang dia alami.

Pernah mendengar tentang “Phantom Limb Pain” ? Biasanya “Phantom Limb Pain” ini sering terjadi pada seseorang yang sudah kehilangan salah satu dari anggota tubuhnya atau mengalami amputasi. Phantom Limb Pain ini didefinisikan sebagai sensasi nyeri yang mengacu pada anggota tubuh yang pernah ada (Jensen & Rasmussen, 1994). Setelah bagian tubuh dieksisi, baik oleh trauma atau pembedahan, perasaan tetap ada bahwa bagian tubuh itu masih ada (Simmel ,1956). Sebagai contoh adalah ketika seseorang diamputasi pada bagian lenganya, maka terkadang seseorang tersebut akan merasakan bahwa lengan yang diamputasi tersebut masih ada disana. Hal tersebut terjadi karena pada bagian otak yaitu sel-sel yang berada di area korteks sensorik yang awalnya memiliki bidang reseptif yang mencakup jari yang diamputasi merespons, setelah amputasi, terhadap masukan dari jari-jari yang berdekatan, dan telapak tangan. Dalam studi mikroelektroda, area korteks somatosensori yang sebelumnya ditempati oleh satu jari terbukti diambil alih oleh input kulit dari tunggul dan jaringan sekitarnya setelah amputasi (Merzenich & Nelson & Stryker, 1984). Oleh karena itu, otak masih menyimpan memori tentang bagian tubuh yang telah diamputasi, sehingga “Phantom Limb Pain” ini terjadi.

Kesimpulan dari penjelasan – penjelasan diatas adalah diri kita memiliki dua macam rasa sakit yaitu, emotional pain dan physical pain. Kedua rasa sakit ini memiliki mekanisme yang hampir sama. Namun, tidak semua orang bisa merasakan sakit yang sama meskipun lukanya sama. Jika ditanya lebih sakit emotional pain atau physical pain, maka anggap saja jika emotional pain, maka memori dari rasa sakitnya akan terus ada dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan, physical pain, memori tentang rasa sakitnya hanya sebentar, namun rasa sakitnya benar-benar terasa. Jadi, tergantung bagaimana dari masing-masing individu memahami pengertian dari masing-masing rasa sakit yang ada di dalam diri mereka sendiri.  (Sumber : Ashley Maureen Ezekiel )

 

DAFTAR PUSTAKA

Bíró, Dávid. (2010). Is There Such a Thing as Psychological Pain? and Why It Matters. Culture, medicine and psychiatry. 34. 658-67. 10.1007/s11013-010-9190-y.

Meerwijk, E. L., Ford, J. M., & Weiss, S. J. (2013). Brain regions associated with psychological pain: Implications for a neural network and its relationship to physical pain. Brain Imaging and Behavior, 7(1), 1–14. https://doi.org/10.1007/s11682-012-9179-y

Hartwig MS, Wilson LM. 2005. Nyeri. In: Huriawati Hartanto, Natalia Susi, Pita Wulansari, et al. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit volume II, edisi VI. Jakarta: EGC. Pp.1063-1104

Jensen T.S & Rasmussen P (1994). Phantom pain and other phenomena after amputation. in: Wall P.D Melzack R Textbook of pain. 3. Churchill Livingstone, London: 651-683

MacDonald, G., Leary, M. R. (2005). Why does social exclusion hurt? The relationship between social and physical pain. Psychological Bulletin, 131, 202–223.

Simmel M.L. On phantom pain. Arch Neurol Psychiatry. 1956; 75: 637-647

Silbernagl/Lang, 2000, Pain in Color Atlas of Pathophysiology, Thieme New York. 320-321