Logo Rabu, 8 Desember 2021
images

Kampung Gribig Religi Ajak Peziarah Kirab Pusaka digelaran Festival Rumat Ramut Wulan Mulud

Efnews.id - Kota  Malang - Meski masih masa Pandemi Covid 19, Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig jarang sepi dari kunjungan. Namun pembatasan jam kunjungan dan prokes ketat makam ini  telah menjadikan tempat berziarah ini ingin membuat pengunjung napak tilas dan belajar sejarah tentang awal mula Malang.

Jumat Legi 22/10/2021, setelah sholat Jumatan, lokasi ini ramai dikunjungi para peziarah dari komunitas seni budaya nusantara yang datang turut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di makam para Bupati Malang. Mereka mengikuti prosesi legian Rumat Ramut Wulan Mulud yang merupakan event tahunan Kampung Gribig Religi.

Acara ini merupakan rangkaian 27 virtual event kampung tematik se-Kota Malang dengan kemasan Sambang Kampung bangkitnya wisata kembali di Kota Malang.  Gelaran eventnya termasuk event wisata budaya dengan kemasan kirab pusaka dan tumpengan robyong.

Devi Arif Nurhadyanto, Ketua Pokdarwis Kampung Gribig Religi, berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kunjungan wisata religi. “Peziarah tidak hanya berkunjung ke makam saja namun kedepannya bisa terlibat dalam event di Gribig ini,” jelas Arif.

Isa Wahyudi atau yang dikenal dengan panggilan Ki Demang, yang juga menjadi Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) menyampaikan bahwa kegiatan tradisi Bulan Maulud di Pesarean Ki Ageng Gribig merupakan upaya pemanfaatan cagar budaya di komplek makam para Bupati Malang.  


Di Kompleks Makam  Ki Ageng Gribig terdapat dua bangunan yang ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Bangunan Makam Bupati Malang tahun 2018. Rumat Ramut Wulan Mulud diharapkan mampu merumat lingkungan Pesarean dan Bangunan  Cagar Budaya Makam Bupati Malang. Rumat ramut artinya melestarikan tradisi yang masih ada dan terjaga oleh warga.

“Kegiatan pelestarian tradisi maulud juga termasuk upaya melestarikan objek pemajuan kebudayaan nasional.  Acara peringatan dan ritual ini juga menjadi wisata edukasi berbasis budaya yang bersinergi dengan pemanfaatan cagar budaya,” sambut Ki Demang yang hadir sebagai Ketua Forkom Pokdarwis Kampung Tematik Kota Malang.

Ki Haryo Seto yang memimpin rombongan kirab tumpeng robyong, keliling tiga kali area kompleks Pesarean Ki Ageng Gribig. "Orang jawa kalau menyampaikan sesuatu menggunakan simbol seperti yang akan dikirab nanti," jelas Ki Haryo.

Makna songsong/payung sebagai simbol keimanan, bendera merah putih sebagai simbol bersatunya manusia laki-laki dan perempuan, prapen bara api sebagai simbol semangat. Kendi artinya tempat wadah air sumber kehidupan dan tumpeng robyong sebagai bentuk syukur yang dinikmati bersama dan gunungan buah artinya puncak suka cita perayaan Maulid Nabi.

Dalam sambutannya Ida Ayu Made Wahyuni,  Kadisporapar Kota Malang menyampaikan bahwa Kota Malang sedang mengajukan QR Code Kampung-Kampung Tematik agar tempat wisata bisa dibuka kembali untuk dikunjungi. Sekalipun demikian Pokdarwis Kampung Gribig Religi yang mengelola Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig ini menyatakan bahwa semenjak pandemi sebenarnya tidak pernah tutup. Namun jam ziarah dan jumlah yang relatif dikontrol, sehingga membuat pesarean ini paling siap menerima kunjungan wisata.

Reporter: Fra
ncis Xavier