Logo Selasa, 22 Juni 2021
images

KBP Hidupkan Kembali Tradisi Ketupat di ke-7 Lebaran

Efnews Malang - Hari kemenangan telah lewat, Hari Raya Idul Fitri menjadi sebagai Hari Besar Islam raya terbesar dalam peringatan dan perayaan, namun salah satu tradisi yang tidak kalah seru dan tidak boleh terlewatkan adalah Riyoyo Kupatan. Tradisi Islam di Jawa yang selalu dirayakan tepat 7 hari (pitonan) setelah 1 Syawal.

 

Riyoyo Kupatan sebagai ajaran Sunan Kalijaga sampai saat ini masih lestari terselenggara dimana-mana walau telah mengalami penurunan dan pergeseran pelaksanaan. Riyoyo Kupatan adalah salah satu rangkaian dari Lebaran Idul Fitri dimana umumya diselengarakan hari ke-7 bulan Syawal Tahun Hijriyah.

 

Ki Demang dalam acara Riyayan Kupatan di Kampung Budaya Polowijen Rabu Malam (19/5) bercerita bahwa makna lebaran adalah selesai, selesai dalam menjalankan ibadah puasa, maka setelah selesai kita semua wajib meleburkan dosa-dosa (leburan) kita dengan saling maaf memaafkan.

 

“Kita juga bisa saling meluberkan rizki (rejeki) kita dengan saling berbagi (luberan) makanan atau memberikan sesuatu pada saudara, kerabat, teman sehingga kita bisa melaburkan (laburan) diri kita mensucikan diri kembali ke putih, yang bermakna bersih,” jelas pria penggagas KBP ini dalam sambutannya sebelum memimpin doa versi jawa dalam sesi Wilujengan Kupatan Riyayan.

 

Ki Demang juga mengungkapkan makna filosofi kupatan diambil dari bahasa arab kaffatan, namun karena lidah orang jawa tidak bisa menyebut dengan benar, maka bahasa tersebut terasimilasi dengan sebutan kupatan, yang artinya adalah kesempurnaan, kesempurnaan manusia bila saling maaf-memaafkan dan saling berbagi serta memberi juga saling menjalin silaturahmi.

 

“Makna simbolis lain ketupat, kenapa memakai janur kuning, janur adalah daun muda dari beberapa jenis palma besar, terutama kelapa, enau, dan rumbia, dimaksud agar kembali bersinar seperti Nur Muhammad. Ketupat dibuat dengan melilitkan janur satu dengan yang lain dengan maksud agar terjalin tali silaturahmi serta bersudut empat yang berarti kiblat papat tengah pancer dan memakai beras dan ketan agar badan ini waras dalam ikatan,” jelas pria yang bernama asli Isa Wahyudi ini.

 

Persiapan Riyayan Kupatan di KBP sebenarnya dilakukan satu hari sebelumnya dimana warga bersama-sama merangkai ketupat. Pada hari Rabu sore sebelum acara inti dilakukan, sebagian warga menabuh gamelan. Acara dimulai dengan tembang macapat dan dibuka dengan Tari Beskalan, yang makna filosofinya adalah Riyayan Kupatan sebagai penanda segeralah dimulai program kegiatan pelestarian seni budaya kembali seperti jadwal biasanya.

 

Hadir memberikan sambutan Fitria Noverita, Kabid Destinasi Pengembangan Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Malang. “Kami senang dan sangat mengapresiasi bahwa KBP satu-satunya kampung wisata berbasis budaya yang paling aktif uri-uri tradisi budaya karena ini merupakan salah satu agenda atraksi wisata budaya"

 

Tercatat dalam Kalender event Kota Malang 2021, KBP paling banyak menyelenggarakan event, sementara pemerintah hadir mendampingi meskipun suasana masih tergolong pandemi Covid-19, namun dengan segala keterbatasannya, tetap disesuaikan dengan protokol kesehatan.

 

Reporter: Francis Xavier