Logo Rabu, 22 Maret 2023
images

Pengalaman pertukaran ragam seni tari yang didapatkan dari KBP

Kota Malang - efnews.id

 

Pembangunan kampung budaya tidak hanya mengandalkan para penggiat sastra. Namun melibatkan banyak pihak, salah satunya adalah keilmuan teknik. Tata letak arsitektur, model, desain, teknik, dan lingkungan sangat diperlukan untuk membuat destinasi olahraga dan pariwisata menjadi lebih indah dan sesuai dengan karakter desa dan masyarakatnya.


Kampung Budaya Polowijen (KBP) yang didominasi oleh bambu ini menggugah minat mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang untuk berkunjung dan berdiskusi tentang perencanaan dan tata letak arsitektural. Membahas tidak hanya aspek sipil dan arsitektur bangunan, tetapi juga budaya yang memengaruhi gaya model desain, KBP menciptakan satu-satunya kampung budaya di Kota Malang dengan bangunan paling unik dan tradisional, semuanya bernuansa bambu, yang mereka diteliti.

 

Maranatha Wijayaningtyas, dosen cantik dari Teknik Sipil ITN selaku pembimbing Modul Nusantara mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang pernah mengantarkan 28 mahasiwa dari berbagai perguruan tinggi dari Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku dan Papua merasa senang dan bangga akhirnya mampu menunjukkan kesenian khas Malang didepan mahasiswa luar daerah.

 

"Selama ini kami ajak keliling ke kampung wisata dan baru kali ini kami kenalkan adat seni tradisi dan budaya di KBP ini. Kami berjanji akan mengajak mahasiwa ITN lainnya berkunjung dan mungkin bisa jadi mereka akan melakukan pengabdian di kampung ini sekaligus mengembangkan kepariwisataan dari aspek teknik banguan arsitektural dan lingkungan," ujarnya.

 

Taufiq, salah satu mahasiswa MBKM yang berasal dari Makassar merasa senang berkunjung di KBP ini yang menurutnya justru menjadi pengalaman sebagai bagian dari pertukaran ragam seni tari yang didapatkan di KBP ini. "Selama kami berkumpul malah baru kali ini kami masing-masing menunjukkan ragam tarian kami masing-masing dan semua menikmati," katanya.

 

Demikian pula Delta, mahasiwa dari Sumatra yang merasa baru kali ini melihat ada kampung budaya yang sedemikian menjaga ada istiadat seni dan tradisi. "Di tempat kami tidak pernah menemukan model kampung seperti ini dan ini bekal untuk kami tiru," ucapnya.

 

Setelah mereka mendapatkan sajian Tari Topeng Malang yang dimainkan oleh Mega dan Camelia, setelah itu saling bertutur dan bercerita serta mendiskusikan soal kesenian dan ragam tarian.

 

Dengan dipandu oleh Camelia Farella, mahasiswa Prodi Seni Tari dan Musik UM, mereka saling bertukar dan memperagakan tarian dari daerah masih masing serta saling belajar mengikuti gerak tarinya, antara lain tarian Tor Tor Medan, Zapin Melayu, Pukul Sagu Papua, Goyang Tobelo Maluku,  Baksa Kembang Kalimantan Selatan,  Lulo Sulewesi Tenggara.

 

Kegiatan yang dikemas dengan konsep Sambang Kampung ini, membuat mahasiswa program MBKM dari ITN ini mendapatkan pengalaman yang berharga, selain itu juga mendapatkan suguhan perkenalan makanan tradisionalserta penjelasan mengenai kerajinan topeng dan batik dan sejarah masa kejayaan Kanjuruhan Singosari Majapahit hingga Mataram oleh Ki Demang, Penggagas KBP yang bernama asli Isa Wahyudi juga sekaligus ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kota Malang.


Acara ditutup dengan tarian topeng Grebeg Sabrang, mahasiswa Modul Nusantara ITN itu lantas dibawa untuk napak tilas ke Situs Kendedes dan Situs Makam Mbah Reni, Empu Topeng Malang oleh Siti Juwariah Pimpinan Pokdarwis KBP.

 

Di situs Ken Dedes tersebut, Siti Juwariayah menjelaskan bahwa ada benda Watu Kenong dan Watu Dakon yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Selain itu di belakang cungkup Situs Ken Dedes juga terdapat struktur yang diduga merupakan Mandala Empu Purwa yang masih tertimbun oleh tanah yang belum diekskavasi atau digali oleh BPCB  (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Trowulan yang sekarang namanya berubah menjadi Balai Pelestari Kebudayaan di Jawa Timur.

 

Reporter: Francis Xavier


TAG