Logo Selasa, 27 September 2022
images

Kepala Sekolah SMPN 5 Setu Selalu Berdoa Sebelum Menandatangani Ijazah Siswanya

Efnews.id - Bekasi - 22 Maret 2022
Ditemui di ruangannya, H. Eman Sulaeman, S.Pd sebagai kepala sekolah SMPN 5 Setu, menerangkan bagaimana proses pemberian nilai untuk siswa yang beragama Kristen. Dimana nilai siswa tersebut diberikan dari gereja masing-masing, namun di sekolah ada konversi nilai yang dilakukan pihak sekolah.

Alasan Pak Eman melakukan konversi nilai tersebut adalah, dimana siswa lebih banyak waktu nya di sekolah daripada di gereja. Secara perilaku lebih banyak terlihat disekolah, contohnya; apakah anak tersebut suka menjahili temannya, suka ngomong kasar, bagaimana kebersihan, kehadiran di sekolah apakah sering telat, dll,, yang dapat jadi pertimbangan nilanya, itulah alasannya pihak sekolah melakukan konversi nilai tersebut, terang beliau.

(Foto : Gedung SMPN 5 Setu)

Lanjutnya lagi, "Saya sebagai kepala sekolah bukan hanya bertanggungjawab dalam kegiatan pembelajaran, namun sampai pada pertanggungjawaban nilai siswa di akhir pendidikannya. Seperti penandatanganan ijazah, saya selalu berdoa sebelum menandatangani ijazah siswa saya. Karena itu sebagai langkah menuju masa depan anak-anak didik saya. Jika anak-anak sukses di masa depannya, biarlah orang tuanya yang bersyukur duluan dan dapat menikmati. Tapi kalau anak-anak gagal meraih masa depan nya, saya sebagai guru, yang pertama merasa bersalah" ungkap beliau yang memiliki 4 orang anak ini.

Terkait pemberian nilai agama oleh gereja, sepertinya diluar daripada penilaian oleh sekolah, karena pelaksanaannya memang di luar sekolah. Padahal, kegiatan anak lebih banyak di sekolah daripada di gereja. Oleh karena itu, beliau memberitahukan tentang Pendidikan Agama Kristen (PAK), bahwa program dinas pendidikan sudah merencanakan untuk membuat satu titik per-kecamatan sebagai tempat penilaian agama untuk non muslim. Namun saya perhatikan sampai sekarang belum ada realisasi nya, ungkap beliau dengan penuh harapan dapat terealisasikan secepatnya.

Selanjutnya beliau menceritakan tentang kelakuan anak-anak remaja dijalanan.

"Saya pernah naik motor boncengan sama Ibu, ditengah jalan melihat anak-anak remaja tawuran sampai bawa benda tajam. Melihat kejadian itu hati saya tersentak sebagai seorang guru. Dalam benak saya. apakah demikian juga kelakuan anak-anak didik saya? Masya Alloh, saya sedikit termenung melihat hal itu. Itulah yang menjadi alasan utama saya sebagai kepala sekolah, harus benar-benar menyiapkan sekolah itu untuk membentuk karakter anak kedepannya, dan pendidikan agama sangat berperan untuk itu" tutup beliau. [Mar'S]