Logo Kamis, 5 Agustus 2021
images

Monumen Kapal Selam Surabaya, mengingat sejarah keberadaan kapal selam di Indonesia.

Efnews Surabaya - Monumen Kapal Selam, Surabaya. Kalau dengar nama kota ini, selalu teringat beberapa kenangan lama. Kota yang hampir tidak pernah saya singgahi kecuali benar-benar ada keperluan urgent.
 
Alasannya karena di kota ini saya merasa 'kecil'. Berada di antara gedung-gedung segede bagong bikin saya merasa menciut. Hampir sama dengan perasaan yang saya rasakan saat lagi berada di savana teletubbies Bromo dengan bukit-bukit menjulang di sekeliling.
 
Bedanya, di gunung saya merasa 'kecil' krn ingat Tuhan. Sementara di kota seperti Surabaya (atau Jakarta), perasaan 'kecil' itu timbul dari rasa sumpek. Kesan kotanya yang dinamis, aktif, dan fast-paced bikin saya teringat pada bos-bos di kehidupan lalu yang suka main perintah tanpa mau sadar jam kerja udah berakhir .
 
Itulah kenapa saya tidak pernah dengan sengaja main ke Surabaya - walau pada kenyataannya sering juga saya ke sini sejak dulu, entah untuk urusan belajar atau pekerjaan.
 
Hari ini juga sama. Karena ada keperluan makanya saya menginjakkan kaki lagi di kota pahlawan ini. Kebetulan kami menginap di salah satu hotel dekat Monumen Kapal Selam. Jadi lumayanlah sekalian mampir, biar ada oleh-oleh foto-foto .
 
HTM Monumen : Rp 15.000/org.
Jam buka :
Selasa - Jumat pkl 09.00 - 17.00
Sabtu - Minggu pkl 09.00 - 19.00
Senin libur.
 
Tadi kami berkunjung jam 15.30. Dapat pemberitahuan bahwa pada jam 16.00 akan ada film pendek tentang sejarah angkatan laut Indonesia yang diputar di ruangan video rama. Kalau baca dari review orang, setiap jam 10.00 pagi juga ada pemutaran video yang sama. Lumayan nonton video ini jadi dapat insight tentang - khususnya - sejarah keberadaan kapal selam di Indonesia.
 
Berada di ruangan sempit seperti kapal selam bikin saya nggak nyaman. Apresiasi setinggi-tingginya bagi kru kapal selam di negeri ini yang betah bertahan bertugas di tempat yang sempit seperti itu dengan segala resikonya. Saya jadi paham kenapa ada kru yang berpesan pada keluarga bahwa kalau mereka dapat tugas menyelam, maka keluarga harus menganggap beliau sudah meninggal.
 
Pada video yang ditayangkan juga memuat slide-slide foto dan rekaman singkat Nanggala 402. Seketika jadi sedih.
 
Monumen ini biasanya tenar di kalangan anak-anak study tour. Tapi sepertinya di masa pandemi gini belum memungkinkan untuk ngajak anak sekolah berkunjung. Apalagi space di dalam kapalnya terbatas.
 
Saya berharap anak-anak muda lebih banyak yang mau jalan-jalan ke monumen seperti ini atau museum. Jangan ke mall atau cafe melulu.
 
Ingat, karena Rangga itu penyuka sastra maka dia sanggup bikin cewek se-Indonesia Raya klepek-klepek. Dia aja yg gantengnya sundul khayangan ngajakin jalannya ke toko buku bekas nyari bacaan antik, bukan maksain ke cafe kekinian hanya demi dibilang asyik.
 
Sumber : Ellen Thiastiane