Logo Rabu, 8 Desember 2021
images

P3KM mempersiapkan Pasar Tematik dimulai dengan Batik Sukun di Pasar Sukun

Efnews.id - Setelah sukses dengan Kampung Tematik di Kota Malang, membuat beberapa warga Kota Malang untuk melakukan kegiatan serupa, namun kali ini bukan di Kampung maupun daerah wisata melainkan pasar tradisional. Mengingat Pasar Online sekarang mulai booming dan pasar tradisional mulai sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan karena kesan kumuh dan bau, padahal disanalah tempat manusia saling berinteraksi dan berkomunikasi satu dengan yang lain.

 

Pasar tradisional adalah tempat yang asyik yang ada proses tawar menawar antara penjual dan pembeli yang jarang bisa ditemuin di pasar online (marketplace) saat ini. Kali ini Persatuan Pedagang Pasar Kota Malang (P3KM) mencoba untuk membuat Pasar Tematik dimulai dari Pasar Sukun yang akan menjadi Pasar Batik Sukun.

 

Kegiatan di Pasar Sukun, Kota Malang ini (Sabtu, 20/11/21) dibuka dengan tes kesehatan, senam pagi dan kelas belajar batik canting yang diikuti dengan hiburan campursari. Fathoni, ketua paguyuban Pasar Sukun menjelaskan acara ini baru pertama kali digagas dan berharap setiap Sabtu kelas belajar batik ini terus berjalan sampai bisa menjadi ikon pasar ini. “Kita mempunyai ikon buah sukun sebagai khas Batik Sukun,” jelas Fathoni yang membawahi 300 pedagang di Pasar Sukun ini. “Masih banyak yang non-aktif (belum berjualan) akibat sepi karena pandemi ini,” lanjutnya.

Muhammad Taufiq Shaleh Saguanto yang juga memegang Sertifikat KEK (Komite Ekonomi Kreatif) dibidang Komunikasi dan Pemasaran juga ingin tiap pasar punya tema tersendiri dan ini yang akan digarap oleh Taufiq Hotbottles, panggilan akrabnya satu-persatu. “Saat ini saya telah mendatangkan Mbak Nena, warga Sukun gang 2C untuk mengajarkan cara mencanting batik. Kita manfaatkan warga local Sukun. Tidak lupa saya juga mengundang Mbah Yongky yang juga merupakan guru dari Mbak Nena sebagai contoh bila nanti warga yang belajar disini bisa sukses dan mengajarkan ke warga yang lain, maka Ekonomi Kreatif sukses berjalan,” kata Tufiq. “Ekonomi kreatif tidak melulu hanya produk digital, namun bisa mengkombinasikan antara produk buatan tangan dan dipasarkan secara digital. Itulah tugas yang saya di KEK ini dan saya akan segera membuat Aplikasi Pasar Rakyat yang akan bersinergi dengan Pasar Traditional yang diberi nama PASRAM (Pasar Rakyat Malang),” jelas pria tambun ini yang sering malang melintang di televisi swasta ini.

 

Di Gazebo terlihat Bu Nena, pelatih batik yang memandu ibu-ibu di Pasar Sukun ini dengan telaten membimbing pelan-pelan agar peserta bisa terbiasa dengan cantingnya. “Canting adalah nyawanya pembatik dan jangan dipinjam-pinjamkan, karena disini kita bisa tahu kemiringannya, lurusnya, keluar malam (bahan batik) nya seperti apa, hanya kita yang tahu,” jelasnya kepada ibu-ibu peserta yang terlihat mencoba merasakan untuk pertama kali kegiatan membatik.

 

Bu Nena yang sudah 5 tahun membatik dan sudah 3 tahun ini aktif dalam pemberdayaan masyarakat sekitar. “Kami dirumah tetap aktif mengerjakan batik dan dikerjakan di rumah masing-masing ibu-ibu pekerja dan setiap hari Jumat kita ada pelatihan sedekah ilmu di Kampung Terapi Hijau yang juga menjadi tempat wisata,” tambah Bu Nena.

 

Pak Yongki Irawan yang biasa dipanggil Mbah Yongki, sesepuh dalam bidang seni dan budaya menjelaskan bahwa yang terpenting adalah merangsang untuk orang mau berproses. “Proses ini cukup panjang, tidak cukup 1 atau 2 hari, jadi butuh waktu sehingga inilah yang melatih emotional, intuisi, kejiwaan dan rasa kita,” jelasnya.

 

H. Bayu Rekso Aji , anggota DPRD dari Komisi B Kota Malang berharap semua pedagang bisa menjadi program andalan di pemerintahan kota karena batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia untuk dunia. ”Kedepannya setiap pasar dari 26 pasar di Kota Malang punya tema-tema sendiri, sehingga kebangkitan ekonomi kerakyatan kita mulai dari pasar. Insyaallah ini adalah sesuatu yang luar biasa. Saya ucapkan terimakasih kepada P3KM dan Bu Nena serta teman-teman agar bisa sinergi, kolaborasi dari semua pihak yang kita perlukan untuk membangun pasar rakyat,” tutup Pak Bayu.

 

Reporter: Francis Xavier