Logo Kamis, 5 Agustus 2021
images

Perempuan Sanggul Kebaya dan Kampung Jawa Ngaglik

Efnews Malang - Berbagai macam cara pelestarian tradisi dan budaya dapat kita lakukan untuk meningkatkan kecintaan kita terhadap warisan leluhur dan nenek moyang. Pada hari Sabtu 12 Juni 2021, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, kedatangan tamu dari Perkumpulan Perempuan Bersanggul Nusantara (PBN) berkolaborasi dengan Komunitas Kebaya Sanggul Mbois Malang Raya (KKS Mbois Malang). Kedatangan kedua komunitas ini disambut oleh Ketua TP PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) Kota Batu, Wibi Asri Punjul Santoso, Istri dari Wakil Walikota Batu (Ir. H. Punjul Santoso, S.H., M.M.) didampingi Lurah Ngaglik, Edwin Yogaspatra Harahap. Kunjungan secara formal ini ditandai dengan pemberian sumbangan sejumlah pakaian kebaya, lengkap dengan jarik kepada pelaku seni budaya di Kelurahan Ngaglik. Wibi Asri Punjul Santoso mewakili masyarakat Kota Batu menyampaikan ucapan terimakasih sebesar-besarnya atas support dan bantuan dari Perkumpulan Perempuan Bersanggul Nusantara bersama dengan KKS Mbois Malang. “Ini luar biasa, perhatian kepada kami dan mengingatkan bahwa kami harus kembali mencintai budaya dan tradisi jawa. Pakaian jawa adat ketimuran harus kita jaga dan kita lestarikan, kebaya dan sanggul itu busana agung dan anggun yang bisa membentuk kepribadian kita sebagai orang Jawa,” jelas beliau. Tak kalah menarik Lurah Ngaglik, Edwin Yogaspatra Harahap, menerima penghargaan dari Perkumpulan Perempuan Bersanggul Nusantara yang selama ini menunjukkan dedikasinya terhadap upaya pelestarian pakaian tradisional jawa karena telah membuat keputusan dan mewajibkan warga kelurahan Ngaglik pada hari tertentu menggunakan batik produksi kelurahan Ngaglik. Pemberian penghargaan disampaikan langsung oleh Bapak Ries Handana, Ketua Perkumpulan Perempuan Bersanggul Nusantara yang datang langsung dari Surabaya beserta rombongan. Seraya memperkenalkan potensi wisata budaya yang dapat dinikmati di Kelurahan Ngaglik, Pak Edwin menjelaskan bahwa di Kelurahan Ngaglik sudah terbentuk Lembaga adat dan sudah melakukan Rembug Adat, dimana nantinya lembaga ini yang akan bertanggungjawab pada kegiatan ritual adat istiadat, tradisi dan menjaga warisan budaya kita. “Ke depan Kelurahan Ngaglik juga akan membuat wisata kampung jawa, yang mana nantinya akan ada tempat di mana wisatawan belajar aksara jawa, permainan tradisional jawa, dan budaya Jawa. Rencananya beberapa rumah akan dijadikan gallery batik di mana wisatawan bisa berbelanja dan membuat batik di Ngaglik,” jelasnya. Sementara itu, Ries Handana, Ketua PBN dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelestarian tradisi melalui busana jawa, utamanya sanggul dan kebaya merupakan upaya pemajuan kebudayaan sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017. “Dengan berbusana sesuai dengan adat kita sebagai orang jawa dapat mengarahkan kita untuk belajar budi pekerti, sopan santun, adat istiadat kita sebagai orang jawa. Sebagaimana pepatah jawa Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Kalau kita ingin dihargai orang sangat tergantung dari apa yang kita bicarakan dan busana yang kita gunakan. Dengan berbusana jawa kita turut serta memajukan objek-objek pemajuan kebudayaan,” tutur Ries Handana yang berprofesi sebagai arsitek jawa. Di kesempatan itu pula Isa Wahyudi, Penggagas Kampung Budaya Polowijen, yang turut serta mengikuti kegiatan tersebut juga menyampaikan pujian positif kepada pemerintah daerah di Malang Raya yang mewajibkan pegawainya memakai pakaian khas daerah pada hari tertentu. “Sudah semestinya pemerintah di Malang Raya ini menetapkan busana Malangan sebagai pakaian khas daerah. Sudah banyak kajian dan contoh-contoh yang dapat di jadikan rujukan salah satunya udeng Malang, motif-batik untuk jarik mungkin juga untuk kebaya yang dapat diambil dari ornament dan relief candi-candi di Malang,” jelas pria yang kerap dipanggil Ki Demang. Dan di akhir acara Sany Repriandini, Ketua KKS Mbois Malang menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya pemberian donasi kebaya dan pemberian penghargaan kepada Lurah Ngaglik saja namun kegiatan ini juga di lengkapi dengan pameran batik Ngaglik, Fashion Show serta flashmob. “Kegiatan kita ini banyak, diantaranya ikut memperingati hari besar nasional, kegiatan adat dan tradisi, lomba kebaya serta kunjungan ke komunitas kebaya dan donasi,” ungkap Sany. “Kita sering berpakaian kebaya dan ikut upacara di Balaikota Malang, kunjungan edukasi ke komunitas kebaya serta donasi ke korban bencana juga. Pemberian kebaya juga pernah kita lakukan di Kampung Budaya Polowijen sebayak 40 stel kebaya khusus untuk anak-anak dan remaja” tutur Sany sambil menjelaskan bahwa besok hari Minggu, 13 Juni 2021, juga akan ada kegiatan serupa di Kabupaten Malang. Reporter: Francis Xavier